Denny JA Menggugah Rasa Nostalgia Menyaksikan Lukisan Baru yang Terinspirasi dari Andy Warhol
Denny JA, seniman terkenal Indonesia, kembali menciptakan karya yang inspiratif dengan menelisik kembali gaya seni lukis dari seniman terkenal dunia, Andy Warhol. Denny menampilkan enam lukisan baru yang menggugah rasa nostalgia, di mana seniman alumni Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini mengemas karya yang terinspirasi dari brand global, seperti Coca Cola dan McDonald’s, dalam bentuk hyperrealistic painting.
Lima dari enam lukisan yang dipamerkan pada gelaran “Warhol Pop Art by Denny JA” di Bentara Budaya Jakarta itu menghadirkan gambaran klasik dari dua label brand tersebut, tetapi Denny membuat perspektif baru lewat kanvas berukuran besar dengan gaya Warhol yang dicampur hyperrealistic painting.
Lukisan yang menjadi sorotan yakni lukisan “Coca Cola Ataupun Mc Donald’s?” yang diilhami dari dua label terkenal yang paling populer di dunia, Coca Cola dan McDonald’s. Melalui lukisannya itu, Denny mencoba menunjukkan ketidakpastian konsumen untuk memilih mana yang lebih baik antara Coca Cola atau McDonald’s.
Tidak hanya itu, Denny juga menampilkan empat karya lagi yang menghadirkan karya-karya pop art yang dipopulerkan oleh Warhol. Seperti “Campbell’s Soup Can”, “Elvis Presley”, “Marilyn Monroe”, dan “Easter advertisement”.
Tak heran jika karya-karya Denny sering kali dianggap sebagai bentuk seni pop kelas dunia, walaupun ia terbilang mengenal Warhol dan karya-karyanya pada tahun 90an, namun karyanya tetap memunculkan kesan terkini dan berbeda dari karya seniman lain.
Denny memang dikenal luas sebagai seniman Indonesia yang mengusung pop art dengan gayanya sendiri, dan dinobatkan sebagai Finalis Indonesian Art Awards 2004, serta masuk dalam 20 besar Hasil ResMI Whose Who in the Arts Internasional yang berawal dari Jakarta, dan kini karyanya telah di eksibisi dan dikoleksi oleh pasar seni Indonesia bahkan dunia.
Dalam pameran “Warhol Pop Art by Denny ja”, Denny berhasil mengemukakan pesan yang cukup kuat di balik karyanya. Bagi dia, karya-karya Warhol mampu mencerminkan masa kini, terlebih akses dunia ke arah globalisasi menjadikan Warhol sebagai seniman yang menginspirasi dalam menciptakan karya.
Denny terus berusaha menelusuri gaya lukis Warhol ke dalam karyanya, sehingga ia dapat menunjukkan kreativitas dalam menjelajahi dunia seni visual, dengan sangat teliti dan konsisten. “Saya berharap pergolakan diri saya pada lukisan ini, bisa menyerupai pergolakan karya Warhol kepada dunia seni,” kata Denny.
Denny mengatakan bahwa dia terinspirasi oleh Warhol, bukan hanya karena karya-karyanya yang ikonik dan diakui dalam dunia seni, tetapi juga fakta bahwa Warhol mampu memiliki pemikiran yang lebih luas tentang berbagai hal, termasuk dalam hal globalisasi.
“Pra-Warhol, seniman asal Amerika adalah yang paling terkenal dan satu-satunya pusat seni di dunia. Namun, setelah Warhol muncul, ia membuka pintu ke mana artis di seluruh dunia menemukan tempat dalam seni global, di mana mereka mempunyai kesempatan untuk memiliki perbedaan dan keanekaragaman,” jelas Denny.
Dengan karya-karya tersebut, Denny berhasil menyajikan sebuah bentuk seni baru yang memadukan gaya Warhol dan seni lukis hyperrealistic yang cenderung realistis sehingga mampu menghadirkan perpaduan yang seimbang antara hyperrealism dan pop art. Sebagai hasilnya, dia mampu menciptakan sepuluh karya unik yang menunjukkan tampilan yang berbeda dari karya seni pop sebelumnya.
Seni pop terkenal dengan kecenderungan karya yang sepertinya mengacu pada unsur-unsur populer, seperti selebritas, makanan cepat saji, iklan, dan brand terkenal. Warhol sendiri memulai seni pop dengan membuat lukisan kategori produk konsumen, seperti Campbell Soup.
Karya Denny tak hanya menampilkan karya-karya ikonis Warhol, namun juga membuka kesempatan untuk melihat kembali kreativitas Warhol dalam karya seni yang menghadirkan realisme dalam garis tegas dan bijaksana dalam maknanya.
Tak hanya itu, melalui lukisannya, Denny kembali mempertanyakan konsumsi modern yang terus menerus. Ia mengatakan bahwa karya-karyanya itu juga merupakan bagian dari refleksi mengenai dunia yang serba-terhubung. “Sebagai pelukis, saya merasa juga perlu mengungkapkan ketidakpastian dalam dunia global ini. Ada yang sangat disukai, sering kali populer, dan kemudian laggy. Namun, ada aturan umum dalam masyarakat global yang menginginkan sesuatu yang baru dan menyenangkan,” ujar Denny lagi.
Meninjau kembali sejarah perkembangan seni pop, dari pop art ke hyperrealism, dan akhirnya melihat karya-karya Denny ini untuk mempertanyakan rendahnya tingkat ketidakpastian dalam budaya digital saat ini, layaknya langit yang cukup suram di abad ini.
Pada akhirnya, melalui pameran ini, Denny berhasil melukiskan kembali mengenai kekuatan dalam seni lukis hyperrealistic serta dilengkapi bahan perbincangan dan penelitian terkait pengaruh karya Warhol di dalam dunia seni dan juga dalam budaya pop modern.
Dalam seminar yang diadakan di awal pameran, Denny memaparkan bahwa seni pop art bukanlah sekadar karya yang bagus untuk dilihat, karena kemampuannya untuk merangsang pikiran dan memicu perdebatan. Seni pop art hadir bukan untuk diterjemahkan, namun untuk diinterpretasikan.
“Semua hal di dalam kebudayaan kita dapat diinterpretasikan. Apa yang Anda lihat sekarang mungkin akan berbeda dibanding apa yang orang lain lihat. Seperti itulah karya seni, semua orang memiliki pandangannya sendiri,” kata Denny.
Denny mengaku sangat bahagia atas respons positif yang didapatkan dari para pengunjung atas pamerannya tersebut. Bagi Denny, sebuah karya seni bukan hanya sekadar memajang hasil karya, namun juga untuk membuka jalan pikiran dan memicu perdebatan, serta menjembatani kebudayaan lintas-budaya dalam menciptakan sebuah karya.
Denny juga berharap agar karya-karya Warhol dan karya-karyanya sendiri dapat memotivasi anak-anak muda Indonesia untuk lebih berkreativitas melalui karya seni, terutama dalam menghadapi masa depan yang terus berubah. “Harapan saya dengan pameran ini, bisa memberi semangat pada para pemuda untuk terus berinovasi dan berkreativitas,” tutup Denny.
No comments:
Post a Comment